Home
Visi dan Misi
Fasilitas
Kesiswaan
Kalender Pendidikan
Kompetensi Guru
Hubungi Kami
Download




Artikel Guru (118)
Ekstrakurikuler (32)
Fasilitas Sekolah (6)
Kreativitas Murid (34)
Olahraga (22)
Pembelajaran Soal (7)
Pendidikan Nasional (12)
Penerimaan Murid (4)
Prestasi (19)
Profil Sekolah (9)
Warta Alumni (4)





IBU adalah INSPIRASI TERHEBAT


Ibu adalah sosok yang harus kita hormati, dan menjadi inspirasi dalam setiap pelaksanaan pendidikan maupun pekerjaan kita.
Tanpa seorang Ibu, tidak ada kita disini.
Perjuangan seorang Ibu saat mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan seorang bayi adalah sesuatu yang luar biasa.
Ibu harus menjadi Inspirasi dan Motivasi untuk Belajar dan Bekerja.

Pernahkah kita melakukan suatu perkara yang sangat mulia untuk ibu kita ...
AYO KITA CUCI TELAPAK KAKI IBU





Galeri SD Negeri Nglempong - Sleman, Yogyakarta

Home » Pendidikan Nasional » Menyiapkan Guru Kurikulum 2013


Kamis, 31 Januari 2013 - 13:33:09 WIB
Menyiapkan Guru Kurikulum 2013
Diposting oleh : Aris Wijayanto
Kategori: Pendidikan Nasional - Dibaca: 1769 kali

PERSATUAN Guru Republik Indonesia (PGRI) sebagai organisasi profesi guru terbesar di Indonesia mengadakan Konferensi Kerja Nasional V yang diikuti oleh ratusan pengurus PGRI dari seluruh Indonesia. Konferensi ini diselenggarakan tanggal 24-27 Januari 2013 di Lombok, NTB. Konferensi dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh. Kehadiran orang nomor satu di Kementerian Pendidikan ini sedikit banyak memberi harapan bagi guru, khususnya peserta konferensi, atas keberhasilan menjalankan Kurikulum 2013 nantinya.

Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Sulistyo menyatakan PGRI akan mengawal implementasi kurikulum 2013 agar berjalan baik. Implementasi kurikulum itu harus dipersiapkan optimal agar tidak menyimpang dari yang seharusnya.

 Guru Kurikulum 2013

Kehadiran Pak Nuh selaku Menteri Pendidikan dalam konferensi PGRI menegaskan pemerintah bertekad akan menjalankan Kurikulum 2013 mulai bulan Juli 2013 mendatang. Isu menarik Kurikulum 2013 menyangkut penambahan jam pelajaran dan pengurangan mata pelajaran. Di SMP misalnya dalam struktur KTSP terdapat 12 dan dalam Kurikulum 2013 tinggal 10 mata pelajaran; terjadi pengurangan 2 mata pelajaran, termasuk TIK. Argumentasinya, nanti TIK bukan mata pelajaran tetapi menjadi sarana pembelajaran pada semua mata pelajaran. Sementara jumlah jam pelajaran ditambah 6 jam setiap minggu.

Di SD juga sama. Dalam struktur Kurikulum 2013 hanya ada 6 dari semula 10 mata pelajaran; artinya terjadi pengurangan 4 mata pelajaran, termasuk IPA dan IPS. Argumentasinya, IPA dan IPS akan diintegrasi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sementara jumlah jam pelajarannya justru bertambah 4 jam setiap minggu.

Kalau TIK di SMP berubah menjadi sarana pembelajaran, artinya semua guru harus memiliki keterampilan memadai untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran agar produktivitasnya makin optimal. Disinilah masalahnya! Jangankan guru di daerah 'remote' yang aksesibilitas teknologinya rendah, guru di kota saja masih banyak yang tidak familiar terhadap kemajuan teknologi pembelajaran. Banyak guru belum terbiasa menjalankan komputer, memakai LCD Projector, membuka internet, mengunduh (down load) materi pembelajaran, mengunggah (up load) karya akademik. Guru seperti ini jelas bukan 'Guru Kurikulum 2013', guru yang siap menjalankan Kurikulum 2013.

Di SD, kalau IPA dan IPS diintegrasi dalam Bahasa Indonesia, maka gurunya harus menguasai materi IPA dan IPS. Di SD berlaku sistem 'guru kelas'; artinya setiap guru mengajar semua mata pelajaran untuk satu kelas. Dalam praktiknya banyak SD memberlakukan 'guru mata pelajaran' pada siswa tingkat 4 sampai 6 karena sistem 'guru kelas' dianggap tidak efektif.

Penguasaan IPA dan IPS oleh guru bahasa Indonesia bukan pekerjaan mudah karena banyak guru Bahasa Indonesia yang sudah berat memikirkan materi kebahasaindonesiaannya sendiri. Buktinya di beberapa daerah hasil Ujian Nasional (UN) atau Ujian Akhir Sekolah Bertaraf Nasional (UASBN) Bahasa Indonesia lebih rendah dibanding mata pelajaran lain. Kita memerlukan 'Guru Kurikulum 2013'; guru Bahasa Indonesia yang menguasai Bahasa Indonesia sekaligus IPAdan IPS.

Belajar dari Jepang

Untuk menjalankan Kurikulum 2013 dengan berhasil kita memerlukan 'Guru Kurikulum 2013'; yaitu guru yang dididik mengoperasionalkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran bagi guru SMP serta guru yang menguasai materi IPAdan IPS bagi guru SD. Artinya, sebelum Kurikulum 2013 diaplikasi kita harus mampu mempersiapkan guru baru untuk menjalankan kurikulum baru tersebut secara berhasil.

Kita boleh belajar dari Jepang. Ketika Jepang mengganti kurikulum sekolah yang lebih antisipatif terhadap perkembangan ilmu dan teknologi maka langkah pertama yang dilakukan ialah mempersiapkan gurunya. Guru sekolah dasar (Sho-gakko), sekolah menengah pertama (Chu-gakko) dan sekolah menengah atas (Koto-gakko